HARIANKU

Rabu, 11 Desember 2008

Suara muadzin berkumandang menyerukan adzan kepada manusia-manusia yang tertidur pulas di shubuh yang masih buta itu. Bagaikan kecamba yang baru tumbuh, manusia satu persatu mulai mengerjakan aktivitasnya. Mereka memulainya dengan memenuhi panggilan Allah untuk pergi ke musholla-musholla dan masjid-masjid sambil memanggul peralatan-peralatan untuk kelengkapan sholat.

Akupun juga terbangun, sambil mengusap-ngusapkan kedua mataku dengan tanganku yang masih terbujur kaku karena dinginnya kota Bandung. Hawa dingin yang menyelimuti ruangan kostku bagaikan sebuah benteng besar yang menjaga istana kerjaan dengan 20.000 pasukan sebagai penjaganya. Enggan rasanya menyentuh air di kamar mandi yang hanya berjarak 3 meter itu. Aku serasa di hadang oleh 20.000 pasukan yang menghalangi langkahku tuk menyucikan diri, menyentuh air untuk berwudlu’ seraya memenuhi kewajibanku sebagai seorang muslim. Betapa itu sebuah perjuangan pertama terberatku di musim dingin di Kota ini.

Aku tidak terbiasa dengan suhu dingin seperti di Kota Bandung ini. Asalku dari sebuah daratan pesisir di Pulau Bali, tepatnya dipinggiran kota seririt kabupaten Buleleng. Cukup panas dibandingkan kota kembang di jawa barat ini. Dinginnya kota kembang ini membuatku merasa harus lebih ekstra adaptasi. Dengan kondisi 180 derajat berbeda dengan asalku, tetapi aku harus kuat bertahan demi mencari sesuap ilmu.

Program Departemen Agama Republik Indonesia, telah mengantarkanku untuk menuntuk ilmu di kota bandung. Mismatch nama programnya, program ini menyekolahkan guru-guru yang mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai dengan basik keilmuannya di Madrasah. Aku salah satunya, basik keilmuanku adalah Sarjana Hukum Islam, tapi aku mengajar Teknologi Informasi dan Komunikasi di salah satu Madrasah yang ada di Bali. Itu bukanlah masalah bagiku, karena semua ilmu bisa dipelajari kalau kita memang benar-benar ingin menguasainya.

Tekadku harus kuat, menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah tujuanku saat ini untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, walaupun backround pendidikanku dibidang keagamaan. Aku merasa ini adalah tantangan hidup yang sangat luar biasa. Betapa sang khaliq sayang kepadaku karena memberikan kesempatan kepadaku tuk mempelajari yang bukan keahlianku.

Tepat jam 07.00, setelah melaksanakan aktivitas di pagi itu, aku bergegas melangkahkan kaki bersama teman-teman sekostku pergi ke kampus. Senang rasanya masa-masa kuliah yang telah ku lalui 2 tahuh yang lalu kini mulai lagi ku jalani, kerinduan pada kampus tuk menggali semua ilmu-ilmunya telah terpenuhi. Belum lagi lingkungannya yang sangat berbeda ketika aku menempuh S1 Sarjana Hukum Islam di IAI. Nurul Jadid. Ini membuatku merasa tertarik memahami lingkungannya. Karena aku yakin bahwa lingkungan disekelilingku adalah sumber ilmu yang tiada tara nilainya.

Sambil senda gurau dengan gelak-tawa dan lontaran kocak yang agak ilmiyah, salah satu temanku nyeltuk:”Sudah Tua kita masih juga nyari ilmu ya?”, ucap Paimo dengan gayanya yang agak nyentrik bak guru supernova dengan kaca mata tipis. Paimo adalah salah satu utusan Guru TIK dari Bali. Umurnya sudah hampir mendekati kepala 40. Meski demikian tekadnya untuk mencari dan mendapatkan ilmu sangat kuat sehingga dia juga termasuk guru mismatch.

“Wong kita diciptakan oleh Allah dalam keadaan bodoh”, sahut Yeni Farida dengan nada agak sedikit menyindir, tapi dengan nada-nada bercanda, diiringi senyum khas seorang cewek yang hampir mencapai kepala tiga. Sambil memperbaiki peniti kerudungnya yang masih kelihatan kurang rapi.

“he…hee…” senyum kangshofy sambil menghisap rokok gudang garam garpit (gudang garam internasional) yang selalu menemaninya kemanapun dia pergi dan di manapun dia berada, kemudia dia mengatakah;”Bodohnya manusia masih diberi akal kan?”, aku pun ikut nimburung :”kalau tidak diberi akal, gak mungkin Allah nyuruh kita menuntut ilmu, ya ngga?”.

Senda gurau sambil cekikikan, membuat langkahku bersama teman-teman menjadi tak terasa bahwa kita sudah sampai di Kampus Fakultas Ilmu Pendidikan. Kampusku yang berjarak sekitar 1 km dari tempat kostku, serasa baru ku tempuh semenit dengan berjalan kaki. Namun di pagi itu aku merasakan tambahan ilmu dari teman-tamanku yang memiliki karakter kocakan yang berbeda-beda. Mereka adalah kreator handal untuk membagi pemikiran dengan kocak dan tawa.

Sampai di kampus, ternyata dosen sudah memulai dengan celotehannya tentang pembelajaran Komputer Dasar. Aku dan teman-temanku ternyata terlambat mengikuti pelajaran, tapi karena kita secara umur memang tergolong agak tua ketimbang mahasiswa reguler, dosen hanya tersenyum dan memperbolehkan kita masuk.

1 ½ jam lamanya aku berada di kelas itu, banyak hal tentang informasi teknologi komputer yang telah aku dapatkan. Namun itu belum cukup untuk aku bawa ke daerah dan dapat mencerdaskan kehidupan bangsa , masih banyak informasi-informasi yang lain belum aku ketahui, tapi untuk pertama kali, aku merasa puas dengan informasi yang telah disampaikan dosen.

Tepat jam 04.00 sore, perkuliahan selesai, lelah juga memeras otak dari jam 07.00 pagi sampai jam 04.00 sore. Akupun pulang ke kost dengan wajah yang agak kusut dan otak yang lumayan pening, ditengah perjalanan pulangku menuju kost, aku banyak menemukan berbagai infromasi tentang tingkah laku para mahasiswa regular. Sangat berbeda tatkala aku masih menjadi mahasiswa reguler di Nurul Jadid.

Tidak sampai ½ jam, aku dan teman-teman sudah sampai di kost. Sambil lulah dan gontai pintu terbuka, tanpa terasa aku merebahkan tubuhku di atas kasur tipis sambil merenggangkan otot-otot pundakku yang terasa kaku, nikmat rasanya ketika Allah memberikan rasa capek dan menghempaskannya dengan satu rengkukan tubuh. “Alhamdulillah, kalau tidak seperti ini capeknya, aku tidak pernah merasakan nikmatnya payah dan capek yang Allah berikan kepada manusia”.

Tak terasa hari menjelang maghrib, mataharipun mulai menutup mata, cahayanya yang kemerah-merahan mulai memdar. Suara adzan bersahut-sahutan dari musholla satu ke mushollah yang lainnya, masjid ke masjid yang lainnya. Aku teringan masa-masaku di Nurul Jadid. Rasa rindu tak habis menyelimuti perasaanku pada lembaga itu. Ingin rasanya melakukan amalan-amalan yang telah ku dapatkan dari sana agar rasa rinduku pada lembaga itu bisa terobati. Akhirnya akupun mulai melaksanakan sholat maghrib dengan dzikir-dzikir yang telah ku dapat selama menimba ilmu di Nurul Jadid.

Tak terasa isyakpun mulai mendatangiku, aku ngantuk setelah seharian menutut ilmu. Ku laksanakan dulu sholat isyak, kemdian merebahkan badan tuk istirahat tidur, kerena besok pada jam yang sama aku harus mulai menguras otakku untuk mencari ilmu-ilmu Allah yang masih tersembunyi dan belum aku ketahui.

One response to “HARIANKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s