Menata Hidup Dengan Prinsip-Prinsip Management

management-1(Barang siapa hidupnya sekarang lebih baik dari yang kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung, barang siapa yang hidupnya sama dengan kemarin maka dia termasuk orang merugi dan barang siapa hidupnya sekarang lebih buruk dari kemarin maka termasuk orang binasa)

Kehidupan manusia selalu berubah-ubah, kadangkalah dia menjadi orang yang sangat baik dan kadangkala juga dia menjadi orang yang sangat jahat. Hal ini disebabkan karena manusia diciptakan oleh Allah dengan dua unsur yaitu; pertama, bahan dasar penciptaan manusia adalah tanah, kita tahu bahwa tanah diwakili oleh bumi yang secara sepintas selalu menarik ke bawah dengan gaya grafitasinya, sehingga kadang-kadang manusia sangat cinta kepada perbuatan-perbuatan yang sifatnya duniawi sehingga menyebabkan dia lupa pada kehidupan yang lain. Kecintaan terhadap dunia ini juga akan menyebabkan manusia melakukan perbuatan-perbuatan yang dikendalikan oleh hawa nafsu, sesingga arah tindakannya cenderung negatif.

Kedua,

manusia diciptakan dengan menambahkan ruh bathini (ilahiah) dalam jasadnya yang terbuat dari tanah tersebut. Dengan unsur ini manusia akan disadarkan bahwa dirinya harus mendekat pada ilahnya (Tuhan) sebagai pencipta. Sehingga kehidupnya tidak semata-mata hanya di Dunia, namun sudah barang tentu pasti akan kembali kepada Dzat yang menciptakannya.

Akan tetapi Allah Dzat maha sempurna dalam menciptakan makhluknya, telah menciptakan manusia sebagai makhluq tersempurna di jagat raya ini, Allah anugrahkan kepadanya berupa Akal dan Hati. Dan dengan akal dan hati ini, desain manusia yang terdiri dari dua unsur itu dapat terhubungkan dengan baik sehingga akan berimplikasi pada kelanjutan hidupnya yang selalu dinamis dan selalu ingin menjadi yang lebih baik.

Tapi pada kenyataannya, manusia memang sering lupa dengan keberadaannya sebagai makhluq yang sempurna. Yang mana dengan sifat lupa ini manusia cenderung mengikuti hawa nafsu yang selalu mengajaknya untuk berbuat perbuatan yang tidak baik, dalam artian melanggar batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Tuhannya. Oleh karena ini perlu kiranya manusia itu menata hidupnya dengan sebaik mungkin. Namun dalam muhasabah ini, saya ingin menyumbangkan pemikiran dalam menata hidup kita dengan prinsip-prinsip management. Karena menurut hemat kami, prinsip-prinsip management ini telah berhasil dikembangkan pada perusahaan-perusahaan, sehingga perusahaan bisa menjadi lebih maju dan lebih baik. Dengan ini timbul pertanyaan yang sangat mendasar dari kami; “Apakah prinsip-prinsip management yang ada ini tidak bisa diterapkan pada diri manusia agar menjadi manusia yang lebih baik? padahal kalau kita amati manusia juga termasuk “organisasi” yang sangat sempurna.

Dalam prinsip-prinsip dasar management, kita sering mendenga istilah POAC (planning, organizing, actuating dan controlling). Dengan ke empat prinsip ini, kami yakin manusia akan menjadi lebih baik dalam menata kehidupannya.

Pertama; planning (perencanaan). Dalam planning kita harus menentukan tujuan. Apa tujuan dari penciptaan kita sebagai makhluk yang paling sempurna. Kalau kita sudah mengetahui tujuan hidup kita di dunia maka kita akan tahu kemana arah kita diciptakan. Allah telah menentukan tujuan diciptakannya manusia yaitu “hanya untuk beribadah kepadaNya”. Tujuan ini adalah ukuran segala bentuk tindak tanduk manusia selama hidupnya. Kalau tujuan hidupnya mengarah hanya untuk ibadah kepada Allah maka segala prencanaannya akan berpatokan kepada undang-undang Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Undang-undang Allah tersebut adalah Iman, Islam dan Ihsan. Iman mewakili ketauhidan manusia yang merupakan logika dasar untuk mencapai satu tujuan. Kalau tujuan kita beribadah kepada Allah tidak didasari dengan penguatan tuhid (keimanan) maka tujuan yang akan kita capai menjadi mengambang. Sehingga apapun bentuk problem dalam kehidupan kita pasti tidak akan dapat tercontrol dengan baik. karena tidak ada kosep yang kuat untuk mencapai tujuan tersebut.

Yang kedua kita harus merencanakan hidup ini dengan membuat schedule kegiatan. Schedule kegiatan ini adalah rincian kegiatan yang harus di kerjakan setelah memantapkan diri dengan berfikir secara sunggung-sungguh tentang iman. Dalam Islam terdapat kegiatan vertical dan kegiatan horizontal, kegiatan vertical adalah kegiatan yang berhubungan antara manusia dengan Tuhan sebagai pencipta. Kegiatan ini dikejawantahkan dengan perintah mengucapkan dua kalimat syahadat, sholat, puasa dan haji, sedang kegiatan horizontal adalah kegiatan yang berhubungan antara manusia dengan manusia yang dikejawantahkan dengan perintah berzakat. Berzakat mengandung makna bahwa kita memang harus berusaha menjadi kekayaan yang sifatnya duniawi, namun jangan lupa kewajiban sosialnya yaitu berzakat. Jadi dalam merencanakan hidup jangan berdasarkan kebutuhan duniawi saja, akan tetapi harus seimbang dengan kebutuhan akhirat. Karena jangan sampai lupa, kita dicitkan dengan dua unsur sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Setelah melakukan perencanaan, manusia harus mengorganize, yaitu membagi tugas dan jadwal untuk dirinya berdasarkan planning yang telah dibuat di atas. Karena dengan mengorganize kita tidak merasa dikejar-kejar oleh target. Karena perencanaan sudah terprogram dengan baik. yang terpenting bagaimana membagi-bagi aktivitas yang telah direncakan yang kemudian disesuiakan dengan kemampuan kita sebagai individu. Sehingga tidak ada salah tempat ataupun salah waktu dalam melaksanakan kegiatan di kehidupan ini.

Kemudian, setelah melakukan organize, prinsip selanjutnya adalah actuating. Tahapan ini yang biasanya banyak problem. Actuating adalah tahapan proses setelah merencanakan. Manusia diberikan akal bukan hanya untuk merencakan saja melainkan diberikan tambahan hati yang berfungsi sebagai motifator untuk menjalankan segala perencanaan yang telah dilakukan. Namun yang perlu diingat dalam melaksanakan perencanaan yang telah kita buat adalah tujuan utama kita hidup di Dunia yaitu berbakti kepada Allah. Kalau seandainya actuating kita melenceng dari tujuan utama, maka problem solvingnya adalah kita perlu mengevaluasi (controlling) segala kegiatan yang telah kita laksanakan. Mencari kelemahan yang ada pada diri kita untuk sedapat mungkin bisa dibenahi dengan tidak keluar dari aturan-aturan Allah yang termaktub dalam al-Qur’an dan Sunnah.

Dalam mengevaluasi (controlling), yang perlu diperhatikan keterbukaan kita pada diri sendiri untuk mengungkapkan kelemahan-keleman tersebut. Kadangkala hawa nafsu kita selalu membela kelemahan-kelemahan yang telah kita perbuat. Sehingga evaluasi tidak berjalan dengan lancar dan kita tetap pada mempertahankan kelemahan-kelemahan yang ada pada diri kita dengan mengasumsikan bahwa itu adalah benar. Namun yakinkan, dengan membuka diri kita untuk menilai lebih objektif maka itu akan menghasilkan kehidupan kita menjadi lebih baik dan jangan sekali-kali membuang pengalaman hidup yang buruk maupun baik. Karena semua itu merupakan system informasi kita yang harus dianalisa sehingga kita tidak membuat keputusan yang salah.

Wallahu ‘alam bisshawab….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s