IMAN DAN TAQWA; KUNCI SUKSES DUNIA AKHIRAT

madinah

Hiruk pikuk kehidupan manusia sekarang ini dengan berbabagai macam problematikanya, akan memiliki dampak negatif, dan pula pasti memiliki dampak positif. Sebagiyan ada yang menyikapi dengan frustasi (keluar dari jalan Allah) dan ada pula yang menyikapi dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Ini berarti Allah masih memberikan kesempatakan kepada manusia untuk memilih jalan hidupnya dan selalu dapat memperbaiki diri yang diawali dengan muhasabatun nafs (introspeksi diri).

Kita sebagai bagian dari masyarakat, tentunya memiliki keinginan agar rakyat bangsa ini, selamat dunia dan akhirat, menjadi masayarakat yang adil, makmur, sejahtera, diberkahi dan diridloi Allah (baldatun thayyibatun warabbun ghafur). Hal ini disebabkan karena masyarakat baldatun thayyibatun warabbun ghafur adalah merupakan cita-cita tertinggi masyarakat khususnya ummat Islam.

Namun usaha kita untuk menjadi masyarakat baldatun thayyibatun warabbun ghafur ini belum pernah terlihat eksistensinya dalam keseharian kita. Salah satu contoh adalah penerapan aqidah dan keimanan. Aqidah dan keimanan yang merupakan pondasi umat Islam di Dunia ini dengan cepatnya mudah goyah, hanya karena urusan perut dan dibawah perut. Sehingga sering membuat manusia gelap mata dan melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah sehingga mnusia tidak akan pernah bisa menjadi orang bertaqwa. Padahal kunci menjadi masyarakat baldatun thayyibatun warabbun ghafur adalah Iman dan Taqwa, sebagaimana yang telah Allah janjikan dalam surat al-‘Araf : 96


(Lau anna ahla al-Quraa aamanu wattaqauu, lafatahna ’alaihim barokatin mina al-samaai wa al-ardl, walakin kadzdzabuu fa’akhadznahum bima kaanuu yaksibuun).Al-Aayah.

Artinya:”Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

Dalam ayat ini Allah berjanji akan menjadikan masyarakat negeri ini menjadi baldatun thayyibatun warabbun ghafur jikalau masyarakatnya beriman dan bertaqwa. Namun jika manusia yang ada di Dunia ini tidak beriman dan bertaqwa, maka Allah akan berikan adzab sesuai dengan apa yang telah mereka perbuat.
Namun, yang perlu dikoreksi dari diri kita adalah apakah kita sudah beriman dan bertaqwa? Ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar dan perlu kita ketahui, atau jangan-jangan kita memang tidak tahu apa sebenarnya beriman dan bertaqwa itu? yang keduanya ini Allah jadikan sebagai kunci kesuksesan manusi menjadi masyarakat baldatun thayyibatun warabbun ghafur baik dunia maupun akhirat.

Iman, sebagaimana yang telah Rasulullah SAW sabdakan adalah: ”mengetahui dengan yakin dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan”.

Hadits di atas menunjukkan bahwa orang beriman harus memenuhi tiga unsur tersebut, yaitu pertama; beriman harus membenarkan dengan yakin dalam hati hal-hal yang harus diimani, tidak cukup hanya membenarkan dalam hati saja, akan tetapi harus diikrarkan melalui lisan, yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun apakah dengan dua kalimat syahadat itu kita sudah dikatakan beriman? Ternyata tidak, kita belum dikatakan beriman kalau tidak pernah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya (taqwa).

Dalam sebuah hadits juga dikatakan bahwa iman itu adalah amanah, sebagaimana yang telah disabdakan rasulullah:“(la imana man laa amaanata lahu)”.Al-Hadits Artinya: “tidaklah beriman seseorang itu kalau tidak amanah”.

Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang beriman adalah orang yang bisa amanah artinya dapat dipercaya untuk menyampaikan sesuatu kepada yang berhak. Allah telah menitipkan hati kepada kita untuk beriman, sudah barang tentu kita harus menyampaikan iman itu kepada hati kita. Kemudian Allah juga menitipkan kepada kita untuk menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya, ini berarti kita sebagai orang yang amanah harus melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya. Akan tetapi kalau orang sudah tidak amanah baik kepada Allah, dirinya sendiri maupun orang lain, berarti dia telah berkhianat pada Allah, dirinya sendiri dan orang lain tersebut. Sedangkan berkhianat itu adalah tanda-tandanya orang munafiq yang Allah tegaskan adzabnya dalam Al-Qur’an dengan menjebloskannya ke dalam api neraka yang paling bawah (fi al-darki al-asfali min al-naari).

Kunci kedua adalah taqwa. Allah telah berfirman dalam al-Qur’an surat Ali Imran: 102. Ayat ini merupakan perintah wajib kepada orang beriman untuk menindak lanjuti keimanannya dengan bertaqwa.

(Ya ayyuha al-ladzina aamanuttaquu Allaha haqqa tuqaatihi, wala tamutunna illaa wa antum muslimun). Al-Ayah.

Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam”.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa yang dimaksud sebenar-benarnya taqwa adalah:
Pertama: an yuthaa’a fala yu’sha yaitu orang yang benar-benar bertaqwa itu adalah orang yang selalu ta’at kepada Allah dan berusaha tidak akan berbuat ma’siat. Oleh sebab itu orang yang bertaqwa ini akan selalu berusaha melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangannya. Karena semua perbuatan yang ia lakukan pasti terbersit rasa takut dalam hatinya, karena Allah selalu memantaunya dan tidak sedikpun dia lepas dari pantauan Allah.

Kedua: yudzkar wala yunsa yaitu orang yang benar-benar bertaqwa selalu berdzikir kepada Allah. Dia selalu ingat kepada Allah dan ketika dia hendak melakukan kemaksiatan dia akan langsung berdzikir mengingat Allah dan segera bertaubat serta memohon ampun kepada Allah. Dia tidak pernah lupa sedikitpun bahwa Allah maha segalanya.

Ketiga: yusykar wala yukfar yaitu orang bertaqwa selalu bersyukur atas segala anugrah Allah. Dia tidak pernah mengingkari sedikitpun anugrahNya. Segala syukurnya selalu dinyatakan dalam bentuk ibadah. Ketika diberikan kesehatan, dia mensyukurinya dengan sholat, puasa dan ibadah lainnya. Ketika dia mendapatkan anugrah harta, dia selalu beribadah denga membelanjakan rizkinya di jalan Allah. Ketika diberikan anugrah anak dia selalu beribadah dengan menjaga anaknya agar selalu dekat dengan Allah, dan banyak lagi anugrah Allah yang perlu disyukuri dengan bentuk beribadah kepadanya. Inilah sebanar-benarnya taqwa. Jangan sampai kita berfikir berat melakukannya dalam keseharian kita, namun berusahalah untuk melaksanakannya.

Di samping itu Allah juga berjanji kepada orang bertaqwa, mereka akan selalu mendapatkan jalan keluar ketika ada masalah, memberikan rizki kepadanya dengan tanpa disangka-sanga.

Sebagaimana firmanNya.

(Waman yattaqi Allah yaz’allahu makhrja, wayarzuqhu min haitsu laa yahtasibu, waman yatawakkal ’ala Allahi fahua hasbuh, inna Allaha baalighu amrihi, qad ja’ala Allahu likulli syaiin qadra). Al-Ayah.

Artinya:”Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya, sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (Q.S. al-Tahalaq ayat :1-2).

Dengan dua kunci iman dan taqwa, Allah pasti akan menepati janjianya yaitu membukakan berkah dari langit dan bumi sebagaimana dalam firmamannya:

“(lafatahna ’alaihim barokatin mina al-samaai wa al-ardl)”. Al-Aayah
Artinya: “pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”.

“Berkah” berarti terbukanya tambahan kebaikan dari langit dan bumi, baik berupa hujan yang menjadi sumber kehidupan tumbuh-tumbuhan dan makhluq lainnya, dengan tumbuh-tumbuhan dan makhluq lain yang ada di Bumi, Bumi akan menjadi kaya dengan alamnya dan ini sangat bermanfa’at bagi kelangsungan hidup manusia. Bukan malah keburukan berupa bencana; seperti semburan lumpur, angin puyuh, gempa bumi dll. Kalau Allah sudah berikan kekayaanNya, tentunya akan dipimpin oleh orang-orang yang amanah karena imannya, masyarakat yang amanah karena imannya sehingga apa yang dicita-citakan demi kebaikan hidup di Dunia dan Akhirat akan dengan mudah dapat tercapai.

Dengan demikian marilah kita masing-masing diri pribadi, mencoba menjadi orang-orang yang beriman dan bertaqwa, jangan selalau mengkabing hitamkan orang lain terhadap permasalahan kita di Dunia ini, terutama bangsa Indonesia yang tercinta ini, mulailah dari diri kita sendiri untuk mengintrospeksi diri agar menjadi orang yang beriman dan bertaqwa, karena setiap diri kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya dihadapan Allah. Wallahu ‘Alam…

By. Muhammad Busyra

e-mail: muhammadbusyra@ymail.com

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s